Bicara mitigasi bencana sering kali terdengar besar dan rumit. Padahal, di Desa Tarikolot, langkah itu justru dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: sebuah lubang kecil di tanah.
Rabu pagi, 28 Januari 2026, halaman TK Robbani tampak berbeda dari biasanya. Anak-anak, guru, warga, hingga pegiat lingkungan berkumpul dalam kegiatan Roadshow Sekolah Sampah bertajuk “Biopori untuk Mitigasi Bencana”. Kegiatan ini diinisiasi oleh Sekolah Sampah bersama Destana Tarikolot sebagai upaya menanamkan kepedulian lingkungan sekaligus mengurangi risiko banjir sejak dini.
Alih-alih sekadar sosialisasi, kegiatan ini langsung diisi dengan praktik pemasangan lubang biopori. Anak-anak diajak mengenal fungsi biopori sebagai resapan air hujan, pengurai sampah organik, dan solusi murah untuk mengurangi genangan. Mereka memegang alat, melihat prosesnya, dan belajar bahwa menjaga lingkungan tidak harus menunggu dewasa.
Di sinilah nilai penting kegiatan ini. Edukasi lingkungan tidak berhenti di papan tulis atau spanduk, tetapi hadir dalam pengalaman langsung. Anak-anak belajar bahwa bencana bukan hanya soal alam yang marah, melainkan juga soal bagaimana manusia memperlakukan lingkungannya.
Kehadiran warga dan relawan Destana memperkuat pesan bahwa mitigasi bencana adalah tanggung jawab bersama. Tidak harus menunggu proyek besar, anggaran miliaran, atau instruksi dari atas. Biopori menjadi simbol bahwa desa bisa mulai dari apa yang mereka miliki.
Langkah kecil ini mungkin tidak langsung menghentikan banjir besar. Namun, ia membangun kesadaran, kebiasaan, dan ketahanan lingkungan dalam jangka panjang. Jika setiap sekolah, rumah, dan ruang publik memiliki biopori, dampaknya akan jauh lebih signifikan dibandingkan solusi tambal sulam saat bencana sudah terjadi.
Kegiatan di TK Robbani hari ini memberi pesan sederhana namun tegas: mitigasi bencana bukan wacana elit, melainkan praktik sehari-hari. Dan masa depan lingkungan yang lebih aman bisa dimulai dari halaman sekolah dan tangan anak-anak kita sendiri. (Abu Rifki)
