Puisi Akhir Zaman: Saat Kejahatan Tak Lagi Datang dari Penjajah, Melainkan dari Bangsa Sendiri

Puisi berjudul “Akhir Zaman” bukan sekadar rangkaian kata puitis, melainkan tamparan keras bagi nurani bangsa. Puisi ini mengajak publik untuk berhenti bertanya tentang siapa yang lebih kejam antara penjajah Belanda atau penguasa kolonial masa lalu, sebab kenyataan hari ini justru menghadirkan wajah penindasan yang lebih licik: penjahat berdasi dari negeri sendiri.

Dalam bait-baitnya, puisi tersebut menyingkap ironi zaman. Jika dahulu penjajah datang dengan senjata dan kekerasan terang-terangan, kini penindasan hadir melalui regulasi, kebijakan, dan tanda tangan di atas meja rapat ber-AC. Tanah dirampas atas nama pembangunan, rakyat dipinggirkan demi investasi, dan hukum kerap dijadikan alat legitimasi kejahatan yang terstruktur.

Puisi “Akhir Zaman” seakan menolak romantisme sejarah penjajahan. Ia menegaskan bahwa luka bangsa hari ini bukan lagi akibat bangsa asing, melainkan hasil pengkhianatan elite yang seharusnya menjadi pelindung rakyat. Penindasan tak lagi berbahasa asing, tetapi fasih berbahasa Indonesia dan berslogan kesejahteraan.

Bangsa yang merdeka lebih 80 tahun ini tidak bisa menyelamatkan alamnya.
Hutan dijual, tambang digali sampai perut bumi robek, laut dikeruk sampai nelayan tenggelam, rakyat disuruh sabar, rakyat disuruh ikhlas, sementara kalian berdasi, duduk-duduk saja, tidak punya empati dari penderitaan bangsa sendiri.

Jangan teriak nasionalisme jika Anda menelanjangi negeri ini. Tak ubahnya gerombolan penyamun bajak laut cerita comik Anderson.
Jadi jangan tanya siapa penjajahnya, penjajah itu bukan Belanda, penjajah itu pengkhianat yang bersembunyi di balik jabatan dan memakan bangsa-nya sendiri. Yang menari diatas bangkai saudaranya sendiri.

Belanda menjajah tidak dengan menggunduli hutan negeri ini. Belanda menjajah tidak merusak laut negeri ini.
Jadi sebetulnya siapa yang menjadi bangsat negeri ini?. Apakah Belanda atau para penguasa berdasi yang tidak malu dengan rakyatnya.

Lebih tajam lagi, puisi ini menyindir tumpulnya empati dan matinya rasa malu. Di saat rakyat berjuang mempertahankan hidup, segelintir penguasa justru berlomba menumpuk kekayaan, memanipulasi hukum, dan membungkam kritik. Sejarah penjajahan yang dulu dilawan dengan darah kini seolah diulang, namun pelakunya berdiri di podium kekuasaan.

Puisi “Akhir Zaman” adalah alarm keras bagi publik. Ia bukan sekadar karya sastra, tetapi dokumen perlawanan moral. Sebuah pengingat bahwa bangsa ini tidak sedang dijajah oleh kekuatan asing, melainkan oleh keserakahan internal yang dibungkus jas, dasi, dan jabatan.

Di akhir zamannya, puisi ini menantang kesadaran kolektif: jika kejahatan hari ini lahir dari tangan sendiri, maka diam adalah bentuk pengkhianatan paling sempurna.
Bangsa ini tidak kekurangan pahlawan, yang langka hanyalah keberanian untuk melawan penindasan yang kini berwajah “resmi”. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *